|
Ditulis oleh Aghnia, Adi
|
Gedung Simbolis Penuh Makna Sekilas tidak ada yang istimewa dengan Gedung Pusat UGM . Bangunan yang diresmikan 19 Desember 1959 ini, seolah hanya bangunan lawas dengan arsitektur tempo dulu . Namun jika diteliti lebih jauh, banyak filosofi menarik pada arsitektur gedung ini. Kompleks Gedung Pusat menyimpan banyak arti yang merefleksikan cita – cita Universitas Gadjah Mada, menjadi perguruan t inggi berbudi luhur sesuai harapan pendirinya. Pembangunan gedung ini dirancang oleh Ir Pangeran Hadinagoro. “Ide awal pembuatan gedung ini yaitu sebagai kantor pusat kesekretariatan. Tetapi berkat bentuk gedung yang megah akhirnya bangunan ini dijadikan juga sebagai benda cagar budaya UGM,” jelas Ir H Ismudiyanto Ismail, MS IAI, dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM. Pola bangunan berlantai tiga ini juga tidak asal jadi. Banyak pesan yang dapat digali, seperti kokohnya pondasi bangunan yang menggambarkan jiwa juang UGM. Selain itu ada filosofi menarik dari gedung yang menghadap ke gunung Merapi (utara, red), yang bermakna menyambut kedatangan Sang Budha, sebagai simbol pencerahan. Nuansa Budha dan kebudayaan Majapahit jelas terekam melalui keberadaan pohon Bodhi yang ada di halaman gedung. Pohon ini dipercaya membawa pencerahan. Selain itu beberapa titik di gedung ini juga terinspirasi dari arsitektur khas bangunan Majapahit, seperti letaknya yang dekat dengan sumber air, yaitu Lembah UGM. Banyak kekayaan sejarah yang terpendam di UGM, membuat pihak senat berencana menerbitkannya menjadi sebuah buku. Buku yang akan terbit dalam waktu dekat ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi civitas akademika maupun masyarakat, agar lebih mengenal seluk beluk dan filosofi kampus yang telah berumur 60 tahun.
|