SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
PEOPLE INSIDE
Sinisme Seorang Ashadi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Vita   

Sinisme Seorang Ashadi

 

Sabtu (07/10) lalu, Ashadi Siregar mendapat hadiah kejutan pada ulang tahunnya yang keenam puluh lima. Hadiah tersebut diwujudkan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru”. Sejumlah alumni pun menyampaikan testimoni tentang sinisme Ashadi.

Bang Hadi itu tampak seperti orang yang sarkas, angker, sinis, tetapi memiliki kemampuan sabar mendengarkan yang besar,” ujar Saur Hutabarat, Pemimpin Redaksi Media Indonesia dalam acara yang diadakan di Ruang Seminar Pascasarjana Fisipol tersebut.

Rizal Malarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute pun menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Saur. ''Dia memberi motivasi tanpa menggurui. Kalau berdebat dan tidak setuju pada satu gagasan, paling-paling dia hanya tertawa kecil yang agak sinis tanpa terkesan memusuhi dan merendahkan," tuturnya.

Dalam buku yang diluncurkan tersebut, juga terangkum pula bagaimana sinisme novelis Cintaku di Kampus Biru ini. Ia seringkali berkomentar dengan cukup sinis dan terkadang nylekit. Dodi Ambardhi, staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi yang juga pernah menjadi muridnya, bahkan menjulukinya sebagai ”Raja Sinis”, ”Tukang Gembos”, dan ”Si Raja Tega”.

Meski sinis, Bang Hadi, panggilan akrab Ashadi Siregar, merupakan sosok yang menyenangkan. Ia meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati murd-muridnya sehingga diadakanlah hajatan tersebut. ”Tidak ada duka bersama Bang Hadi,” ujar Rizal ketika ditanya mengenai suka dan duka bersama Bang Hadi. Baginya, semua pengalaman bersama pria keturunan Batak tersebut adalah suka.

Ashadi juga merupakan sosok yang sangat sederhana. Ketenarannya sebagai penulis novel bahkan tidak pernah merubah sifatnya. ”Di tengah wabah kegandrungan orang untuk menjadi selebritas, Ashadi memilih untuk meninggalkannya,” ujar Dodi.

Diskusi yang dimoderatori oleh Ana Nadhya Abrar tersebut berlangsung sangat menarik. Terlebih diskusi yang diselenggarakan sebagai acara perpisahan dan pensiun Ashadi berisi testimoni-testimoni alumni yang membangkitkan sejumlah kenangan lucu dan membuat semua yang ada di Ruang Seminar Pascasarjana Fisipol UGM terbahak-bahak.

Para alumni dan kolega Bang Hadi berharap, dengan adanya masa pensiun ini Bang Hadi tidak pensiun begitu saja melainkan tetap berkarya. ”Tetaplah berkarya terus di akademik dan sastra!” harap Prof Dr Pratikno M Soc Sc, Guru Besar Fisipol UGM.

 
Dari Tela Ciptakan Lapangan Kerja PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Imel, Dwi   

Tak selamanya berwirausaha itu sulit. Firmansyah Budi Prasetyo membuktikannya.

 

’Mak Krezz, Mak Nyezz’, slogan itu begitu melekat seiring kian berkibarnya Tela Krezz. Firman, begitu ia biasa disapa, berhasil mengangkat derajat singkong yang kerap disebut makanan ndeso menjadi camilan yang lebih berkelas. Kini, singkong telah melambungkan namanya menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses. Saat ini, hampir 600 outlet dan 90 agen Tela Krezz tersebar di seluruh Indonesia berkat sistem waralaba yang ia kembangkan. Bahkan, dalam waktu dekat ini ia akan melebarkan sayapnya ke Malaysia.

 

Perjuangan panjang

Semua berangkat dari sekadar coba-coba. Inspirasi datang ketika Firman tinggal di Kalimantan Barat saat mengikuti program pertukaran pemuda Indonesia-Canada Youth Exchange Program tahun 2005-2006. Miris melihat banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berebut mencari pekerjaan ke Malaysia, Ia berniat untuk membuka usaha sendiri. “Oleh karena itu saya ingin menjadi enterpreneur (pengusaha, -Red) agar bisa membuka lapangan kerja sendiri,” ungkapnya.

Saat kembali ke Jogja, alumni Fakultas Hukum ini gemes melihat outlet tak terpakai milik ibunya. Kemudian muncullah ide Firman untuk membuat usaha berjualan dengan outlet. ''Saya bilang sama mama, outletnya saya pakai saja untuk dagang,'' paparnya. Dengan berbekal garasi rumah dan hobi makannya, Firman yang belum puas dengan usaha warung internet beralih menjadi bakul tela (penjual singkong) pada akhir 2006.

“Saya mulai mencoba untuk memasak singkong goreng yang saya beli sendiri dari pasar telo, Karangkajen. Masaknya juga baru di dapur rumah dan saya tawarkan ke tetangga-tetangga dekat rumah,” kenangnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, anak pasangan Prastowo dan Fajri Budi Rahayu ini mulai mengikuti pameran frenchise dan beriklan di surat kabar. Kemudian ia berjualan sendiri di depan rumahnya di Jalan Bugisan, Jogja, dengan nama Homy Tela. Pada Maret 2007, outletnya terjual untuk pertama kalinya dengan separuh harga.

 

Prinsip Do Action!

”Maksud prinsip Do Action ini kalau kamu punya ide ya jangan cuma di omongin, tapi lakukan. Biasanya orang hanya berkutat pada konsep, tetapi tidak dilakukan,” tuturnya bersemangat. Prinsip inilah yang selalu dipegang Firman untuk menjalankan usaha. Prinsip ini juga yang mengantarkannya meraih penghargaan ISMBEA 2007 dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Menurut Firman, di Indonesia masih banyak orang yang takut dan beranggapan bahwa untuk berwirausaha harus memiliki modal besar. Kenyataannya modal tak selalu berarti uang. Modal juga bisa didapat dari keahlian, kemauan, dan jaringan.

Ia juga mengaku sangat senang bila berjumpa dengan mahasiswa, karena bisa menularkan semangat kewirausahaan yang dimilikinya. Di bangku kuliah mahasiswa hanya mendapatkan teori semata. Untuk memperluas jaringan dan menambah pengalaman, Firman menganjurkan agar mahasiswa untuk aktif berorganisasi. Menurutnya, ilmu yang ia dapatkan dari aktivitas di luar kampus jauh lebih banyak daripada ilmu yang ia dapatkan dari bangku kuliah. “Sampai sekarang ijazah sarjana saya belum pernah terpakai. Makanya saya lebih suka disebut Sarjana Telo dibandingkan Sarjana Hukum,” gurau  peraih predikat summa cum laude ini.

 “Kita tidak akan pernah berhasil kalau tidak mencoba,” pesannya sembari menutup obrolan.