| Memaknai Hari Antikorupsi sebagai Cermin Diri |
|
|
|
| Ditulis oleh DK |
|
Zainal Arifin Mochtar SH, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM : Memaknai Hari Antikorupsi sebagai Cermin DiriTanggal 9 Desember diperingati sebagai hari antikorupsi se-dunia. Tahun ini merupakan kali keenam semenjak dicetuskan pertama kali pada United Nation Convention Against Corruption tahun 2003. Bagaimana pandangan Anda mengenai peringatan hari antikorupsi se-dunia? Bagi saya perayaan hari antikorupsi diistilahkan sebagai cermin. Intinya kita merayakan sesuatu yang belum kita capai. Saya sering katakan pemberantasan korupsi di Indonesia terkena trademill . Kita berkeringat tapi tidak mendapatkan apa-apa, tidak bergerak cepat dan tidak beranjak. JIka berbicara apa pencapaian pemberantasan korupsi, sebenarnya koruptor tetap ada. Dari laporan kasus KPK sebanyak 36.000 hanya puluhan yang bisa dipenjara. Bagaimana pandangan bapak mengenai gerakan-gerakan yang kita lakukan pada hari anti korupsi? Kita bukan merayakannya, tapi harus dimaknai sebagai cermin. Capaian kita tidak banyak. Memang ada kenaikan dari IPK dari 2,2 menjadi 2,8 tapi naiknya tidak tinggi dan tidak berarti. Bisa di ibaratkan dari tikus menjadi kelinci. Capaian tertinggi kan 10 dan kita diibaratkan belum bisa menjadi manusia. Kita tidak merayakan kemenangan, melainkan sebagai bentuk keprihatinan . Simbolisasi bahwa kita care terhadap pemberantasan korupsi . Jadi mari kita jadikan 9 desember ini sebagai cermin. JIka dilihat selama ini, apakah hari anti korupsi mampu menjadi sebuah manifestasi dari kampanye gerakan antikorupsi ataukah hanya menjadi ajang pamer elit politik? Agenda utama kita antikorupsi. Menurut saya, siapa saja boleh ngomong korupsi. Bahwa ada tendensi politik itu masalah kedua. Ini sama seperti saat kita menikah. Ada banyak cita – cita yang diinginkan dari menikah. Ada yang mau keturunan, ada yang mau melepaskan hasrat seks. Dan kita tidak boleh melarang orang menikah, itu kepentingan mereka masing-masing. Saya tidak melihat berapa gerakan mahasiswa yang cenderung mau mengadakan makar. Yang turun di Jakarta 27.000 itu gerakan mahasiswa . Seberapa besar jika mau mengadakan makar. Menyatakan pendapat penting. Gerakan –gerakan anti korupsi biarkan tumbuh. Biarkan menjadi cendawan . Dia boleh tumbuh dengan cara apapun. Dia boleh tumbuh di comberan, rumah mewah asalkan tetap antikorupsi . Kan kita menilai cendawannya bukan tempat tumbuhnya. Biarkan mereka tumbuh sesuai kapasitasnya. Lalu bagaimana cerminan untuk aparatur negara? Aparatur negara bercermin pada capaian yang dia dapat. Sudah banyak tenaga yang kita keluarkan . Memang betul IPK kita naik. Namun,IPK terlalu pragmatis . Karena IPK berbicara pada tingkat bisnis. IPK adalah persepsi pebisnis terhadap korupsi. Yang diperbaiki sektor bisnis, seperti bisnis, bea cukai. IPK naik tetapi tidak menunjukkan angka yang sesungguhnya, yang lain terbengkalai, nyatanya polisi dan kejaksaan tetep korup. Bagaimana seharusnya mahasiswa menyikapi hari antikorupsi? Dalam menyikapi anti korupsi sebenarnya simpel aja. Satukan pikiran dan tindakan. Ketika di tilang mereka menyogok,membuat KTP,SIM ,menyogok. Kepala isinya antikorupsi tapi tindakannya tidak. Jika sudah bersatu pikiran dan tindakan ,baru bisa bicara gerakan. Saya mengeluh ,mungkin kepala idealis ,tetapi perut kapitalis. Tidak layak menurut saya. Jangan menjadi menjadi pelaku untuk hal-hal untuk hal-hal yang tidak penting ,lakukanlah hal-hal yang sederhana . Sepanjang gerakan mahasiswa itu menyatu antara pikiran dan tindakan.
|





