SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Mengulik Rasa Nasionalisme dalam Film Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ontin   

Belakangan ini mulai muncul banyak film yang bertemakan nasionalisme dan jiwa kepahlawanan. Sebut saja Nagabonar, Denias, Garuda di Dadaku, King, dan Merah Putih. Para sineas Indonesia berani memunculkan sesuatu yang berbeda di tengah banjir film Hollywood, film horor, dan film romantis dalam negeri. Untuk mendiskusikan fenomena ini, SKM Bulaksumur UGM mewawancarai Yosep Anggi, seorang pengamat dan penggiat film Indonesia.

1. Apa pandangan Anda mengenai fenomena ini?

Secara kuantitas, perkembangan film kita kan cukup menggembirakan. Seminggu sekali ada film baru di bioskop. Cuma di persoalan tematik, tidak banyak yang ditawarkan sebenarnya. Kita punya sekian ratus film horor dengan yang diganti cuma judul dan hantunya, tapi juga ada film-film yang memang punya kekuatan yang secara film sendiri sudah kuat, misalnya Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku,  Merantau, atau Merah Putih. Mereka berani membuat gebrakan ketika semua film itu sama dan seragam. Itu yang kita lihat dari wilayah populer yaitu bioskop.

3. Menurut Anda, apakah hal ini merupakan perkembangan positif yang luar biasa?

Kalau luar biasa saya pikir tidak, karena ternyata kita tidak bisa belajar juga dari apa yang sudah terjadi. Kalau kita belajar dari hal yang lalu seharusnya kita bisa berpikir bahwa kita harus punya cara lain untuk menyikapi kualitas di film kita. Artinya kalau disebut perkembangan,  memang berkembang karena hidup lagi. Tetapi signifikan dan menakjubkan, tidak juga. Hanya sebagian kecil yang bisa memberikan penawaran-penawaran baru.

4. Kira-kira apa yang melatarbelakangi kemunculan film-film bertemakan nasionalisme ini?

Yang paling dominan adalah ketika penonton juga punya kesadaran untuk menonton film Indonesia. Artinya ketika film itu dibuat ada penontonnya, sehingga mulai menginspirasi untuk membuat film lagi. Tetapi kadang inspirasinya dicaplok habis-habisan dan hanya copy-paste. Di wilayah lain, muncul juga kesadaran untuk memberikan alternatif-alternatif lain. Ada keberanian dan kepercayaan diri yang cukup hebat dari para pembuat film untuk membuat film karena statusnya sebagai pembuat film.


5. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak dapat dipandang secara sempit dari sebuah film saja. Menurut Anda, seberapa besar pengaruh  film-film bertemakan nasional ini terhadap rasa cinta tanah air penontonnya?

Buatku setiap film, produk, atau apapun yang mampu merepresentasikan sebuah bangsa secara proporsional, bijaksana, dan jujur, itu sudah nasionalis. Justru kita tidak bisa bilang itu nasionalis ketika film membohongi penonton-penonton kita. Amerika sedemikian hebatnya membangun nasionalisme mereka melalui film dan media. Menurutku, Amerika itu membohongi banyak orang. Amerika itu menganggap dia menang di Vietnam dengan membuat film Rambo dan membuat dirinya merasa menang dalam pertempuran di Pearl Harbour dengan membuat film Pearl Harbour. Dia kalah, tetapi dia mengemasnya menjadi sebuah kemenangan. Kelihatannya memang hebat, tapi ada kebohongan di dalamnya. Itu yang tidak sehat menurutku. Kejujuran itu lebih penting ketika kita kemudian mengetahui siapa kita melalui media dan film, dari porsi yang jujur juga. Film dokumenter pemenang JAFF-NETPAC (Jogja Asian Film Festival) 2009 dari Thailand berjudul Agrarian Utopia, memiliki gambar yang bagus, tidak pretensius, dan tidak tendensius. Meskipun hanya seperti kamera yang kita taruh di daerah pertanian seperti di Delanggu, tapi film itu kuat sekali, membuat kita kagum pada para petani yang sanggup bertahan. Itu menurutku cara menumbuhkan nasionalisme yang proporsional. Film yang tidak proporsional menurutku misalnya saat petani mencangkul diberi efek slow motion diiringi lagu You Raise Me Up versi orchestra, dan sebagainya.

Kalau berbicara tetang nasionalisme, ketika film itu jujur dan penonton pun jujur mengiyakan bangsa kita seperti ini, menurutku lebih sehat daripada kita hanya ada di wilayah semu bernama nasionalisme. Walaupun setelah menonton sebuah film kita bisa menganggapnya keren, kita tetap tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa di Gunung Kidul kekeringan atau di Riau terjadi pembakaran lokalisasi. Nasionalisme paling kecil adalah minimal kita tahu diri kita dan tetangga kita. Meskipun kita tidak bisa seidealis ini pada kenyatannya, tapi setidaknya wajar dan tidak membohongi.


6. Jadi menurut Mas, apakah parameter film bertemakan nasionalisme yang bagus selain tidak membohongi dan proporsional?

Punya inovasi dalam bertutur. Inovasi bisa dalam mencari cerita-cerita yang spesial atau inovasi agar film kita bisa mempunyai cara padang dan cara tutur yang beragam. Kalau kita lihat film kita sekarang seragam.


9. Film Nagabonar dijadikan materi kuliah di mata kuliah Sejarah Sosial Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan analisa korelasi dengan nasionalisme pada mata kuliah Pendidikan Nilai Pancasila yang ada di FISIP Hubungan Internasional di UNPAR. Apakah nilai-nilai nasionalisme dalam film sebaiknya dibahas dalam kelas sejak sekolah menengah, agar semangat nasionalisme pelajar pun ikut tersulut?

Ya setuju sekali, tetapi perlu disesuaikan juga misalnya penuh kekerasan juga tidak boleh. Menurut saya, film itu adalah produk yang punya kekuatan untuk mampu didiskusikan kembali, membuat asumsi-asumsi dan penawaran nilai-nilai baru bagi penontonnya. Kalau film apapun yang cocok dan sesuai kemudian dijadikan alternatif belajar, itu bagus. Seharusnya itu juga menjadi tantangan bagi pembuat film untuk membuat film yang tidak berhenti di filmnya saja, artinya film-film yang punya kekuatan menginspirasi.


10. Apa pesan Mas untuk masyarakat pecinta film Indonesia?

Penonton itu sebenarnya punya kekuatan untuk memilih. Bagaimana cara ia memilih, adalah dengan belajar untuk memilih yang baik dan benar, antara lain dengan belajar memiliki kesadaran bermedia. Menurutku kita masih bisa berharap pada orang-orang seperti mahasiswa untuk cerdas memilih dan cerdas menonton. Oleh karena itu sangat bijaksana bahwa ketika sebuah film itu punya kekuatan untuk dipertontonkan, maka kita beri tempat alternatif seperti di sekolah-sekolah untuk diperlihatkan. Dengan demikian, orang akan memiliki kesadaran bermedia yang lebih baik. Kalau penonton punya sikap untuk memilih menonton film yang bagus, maka film yang jelek akan terkikis dan hilang. Pembuat film akan berpikir untuk membuat film yang bagus demi menarik penonton.