| 3 Tahun Pasca Gempa, Jogja Telah Pulih |
|
|
|
| Ditulis oleh Galih |
|
Tentu masih jelas dalam ingatan, ketika 27 Mei tiga tahun lalu gempa mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya. Lantas, setelah tiga tahun berlalu, perubahan positif seperti apa yang terjadi kini? Dan, sejauh mana pihak-pihak terkait mendorong perubahan itu? Mengenai hal ini, Dr Sunarto MS, sebagai dosen Fakutas Geografi UGM, sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, akan memberikan pandangannya.
Tiga tahun telah berlalu, tentu banyak terjadi perkembangan yang arahnya positif. Bagaimana hal itu menurut Bapak? Dari pengamatan kami, rehabilitasi dan rekonstruksi sudah berjalan sangat baik. Sisa-sisa gempa, seperti reruntuhan bangunan saat ini sudah tidak tampak. Masyarakat dengan cepat melakukan tindakan recovery. Tapi, kalau bicara data, terus terang kami tidak punya. Ada pihak-pihak yang memiliki data tentang kerusakan, kerugian dan macam macam, sehingga bisa dievaluasi setelah 3 tahun pasca bencana.
Apa yang dilakukan pihak PSBA untuk membantu perkembangan itu? Pada saat kejadian, kita secara inisiatif langsung membentuk tim sendiri yang beranggotakan para karyawan PSBA, berusaha bertindak secepat mungkin ke daerah bencana. Kita saat itu membentuk posko UGM peduli di daerah Bantul yang menjadi daerah paling parah kerusakannya. Saat itu kita banyak bersinergi dengan banyak pihak, antara lain Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda Yogyakarta, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan pihak-pihak lain yang juga peduli dengan keadaan gempa saat itu. PSBA lebih concern mengurusi suplai makanan, mendata kerusakan, lalu kita juga mengkoordinasikan mahasiswa yang menjalani KKN tematik. Kita juga melakukan pemetaan yang tujuannya untuk mengetahui wilayah mana saja yang rawan bencana, sehingga berikutnya pencegahan bisa dimaksimalkan. Hal paling penting adalah usaha menenangkan masyarakat. Saat itu masyarakat mengalami panik yang luar biasa. Sayangnya, tenaga yang kami miliki, jujur, sangat sedikit.
Berapa lama PSBA terlibat di lokasi bencana secara langsung? Kita (PSBA, -Red) saat itu melaksanakan program yang dinamakan Tanggap Darurat. Ini sudah ditetapkan Pemprov Jogja, karena ini hitungannya bencana daerah bukan bencana nasional. Dalam aturannya, tanggap darurat hanya berlangsung selama satu minggu. Lalu ada perpanjangan tempo, berdasarkan keputusan Pemprov, yang saat itu komando langsung dari Sultan (Hamengkubuwono X, -Red). Kita saat itu total ada satu bulan berada disana, selanjutnya langsung dikoordinasi oleh pemerintah melalui dinas-dinas terkait. Kalau dirasa cukup atau tidak, kami merasa 1 bulan waktu yang sangat pendek, apalagi kerusakan saat itu cukup parah. Tapi kami cukup tenang karena pihak pihak yang terkait sanggup melaksanakan tugasnya sesuai target waktu 2 tahun yang ditetapkan pemerintah.
Lantas, setelah tiga tahun ini, apakah saat ini Yogyakarta masih berpotensi bencana? Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia tentu semua masih berpotensi bencana. Apalagi letak geografis Yogyakarta yang dekat dengan gunung berapi, dekat pula dengan laut selatan. Bencana sebenarnya sangat banyak, antara lain gempa, banjir, kebakaran, angin ribut, puting beliung dan lain-lain. Kalau kita persempit ke bencana gempa, Indonesia secara keseluruhan berpotensi gempa. Gempa vulkanis bisa terjadi di wilayah-wilayah sekitar gunung berapi yang masih aktif. Sementara gempa tektonik bisa terjadi di wilayah manapun di Indonesia.
Usaha apa saja yang dilakukan PSBA untuk mengantisipasi bencana gempa yang mungkin akan terjadi kelak? Banyak usaha yang kami lakukan. Satu, kita telah membuat rumah percontohan tahan gempa, yang diharapkan akan dicontoh oleh masyarakat. Kedua, sosialiasi kepada masyarakat, terkait pengetahuan tentang bencana dan cara antisipasinya. Ketiga, edukasi. Kami melakukan semacam roadshow ke sekolah sekolah SD hingga SMA di lokasi bencana, memberikan edukasi kepada pelajar-pelajar di sana. Kemudian ada pemetaan, yang mana ini bisa kita gunakan untuk jangka waktu yang lama di kemudian hari.
|





