SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Sistem Pendidikan UGM Harus Berevolusi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yuri   

Tanggal 2 Mei lalu, Indonesia memperingati Hari Pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan, UGM dinilai memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Hal ini terbukti bahwa UGM merupakan salah satu universitas unggulan di Indonesia. Namun, untuk level internasional, apakah sistem pendidikan di UGM lebih unggul dibandingkan universitas luar negeri? Mengenai hal ini, Prof. Yang Soeng Yoon, dosen jurusan Hubungan Internasional UGM yang berasal dari Korea Selatan akan menyampaikan pendapatnya. 

Bagaimana Bapak memandang sistem pendidikan di UGM?

Dalam bidang itu, saya tidak bisa banyak memberikan pendapat karena status saya disini hanyalah sebagai dosen tamu. Tetapi menurut saya, sejak 30 tahun yang lalu saya datang ke Indonesia, UGM masih tetap sama, belum ada perubahan yang signifikan. Cara dosen mengajar juga masih tetap sama. Padahal, Korea sempat menjadi negara yang bahkan lebih miskin daripada Indonesia. Tetapi kami dapat maju karena Korea sangat mementingkan pendidikan.

Menurut Bapak, bagian mana dari sistem pendidikan di UGM yang harus diperbaiki?

Menurut saya, bagian dari UGM yang harus diperbaiki adalah sistem dosen. Seharusnya ada semacam penghargaan bagi dosen yang memiliki prestasi tinggi, seperti dengan menaikkan gaji. Dengan begitu mereka akan dapat lebih bersemangat dalam mengajar dan membuat penelitian. Di Korea, gaji dosen terbagi dalam beberapa tingkat, yaitu gaji pokok, ongkos penelitian dan uang pangkat. Jadi, dosen malas yang kerjanya dan mengajar tanpa melakukan penelitian akan di kurangi gajinya.

Selain itu, perpustakaan dan fasilitasnya pun harus diperbaiki. Kalau sudah bagus, mahasiswa akan betah berlama-lama di perpustakaan, sehingga mereka juga dapat belajar dengan baik. Pelayanan dari petugas perpustakaan juga harus lebih ditingkatkan. Di Korea, Direktur Sentra perpustakaan adalah orang kedua terpenting di universitas setelah Rektor.  Kalau disini saya dengar hanya sejajar dengan ketua jurusan. Padahal perpustakaan merupakan bagian penting dalam universitas.

Saran saya adalah sebagian dari dana pendidikan yang masuk ke UGM dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan agar lebih baik. Selain itu, permudah bagi mahasiswa yang ingin ke perpustakaan.  Misalnya jangan kunci jalan keluar dari kampus. Pagar-pagar besi dihilangkan agar mahasiswa lebih gampang untuk ke perpustakaan dengan perasaan aman, bahkan bila sampai malam hari. Kalau perlu, jam buka perpustakaan ditambah saja.

Apa pendapat Bapak mengenai mahasiswa di UGM?

Menurut saya, mahasiswa disini masih kurang aktif dalam beberapa bidang, misalnya hanya duduk diam dan menunggu datangnya beasiswa dari luar negeri. Padahal, beasiswa dari luar negeri itu tidak datang dengan sendirinya. Mahasiswa juga harus aktif dalam mencari beasiswa tersebut.

Dari segi sistem pendidikan, apa kelebihan UGM yang tidak dimiliki oleh universitas di Korea?

Di UGM, sistem KKN (Kuliah Kerja Nyata,-Red) sangat berhasil. Memang begitu seharusnya. Setelah mendapatkan ilmu di kampus, mahasiswa belajar untuk menerapkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Keuntungan yang didapatkan mahasiswa akan lebih beragam. Apalagi, UGM mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk KKN.

Di Korea, teknik KKN belum semaju di UGM. Saya selalu memberitahu kolega saya di kampus Korea mengenai sistem KKN di UGM ini. Mereka dengan senang hati meniru dan menerapkannya di kampus Korea. Sayangnya, di Korea, KKN belum diwajibkan. Di Korea, KKN hanya sekedar pelengkap, bila mengikuti diberi nilai tambah namun bila tidak mengikuti tidak ada sanksi apapun. 

Apa harapan Bapak agar sistem pendidikan di UGM lebih maju?

Harapan saya adalah agar UGM secepatnya melakukan revolusi. Revolusi sangat diperlukan karena jaman sekarang adalah zaman globalisasi. Bila tidak melakukan revolusi, maka UGM akan tertinggal dibanding universitas yang bertaraf internasional lainnya.