SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
OPINI
May Day: Sekadar Perayaan? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yuri   

Tanggal 1 Mei atau yang biasa disebut May Day (Hari Buruh), merupakan momen yang diperingati buruh seluruh dunia. Dalam sejarahnya, May Day menjadi momen puncak perjuangan kaum buruh dalam menuntut haknya.

Setelah 127 tahun memperingati May Day, bagaimana kesejahteraan buruh kini? Bagaimana pula dengan pemenuhan hak-hak buruh di Indonesia? Mengenai hal ini, Bapak Chakim dari Perhimpunan Solidaritas Buruh akan memberikan opininya.


Apakah tanggal 1 Mei yang selalu diperingati secara besar-besaran tersebut berpengaruh terhadap perbaikan nasib buruh di Indonesia?

Tidak ada pengaruh yang berarti, karena May Day atau Hari Buruh ini hanya sekedar dirayakan saja, tetapi tidak ada tindak lanjut yang dilakukan. Padahal, seharusnya dibuat semacam rencana menuju perbaikan nasib buruh. Hal itulah yang selalu kami (Perhimpunan Solidaritas Buruh-Red) evaluasi.

 

Menurut Bapak, mengapa hal itu dapat terjadi?

Di Indonesia, posisi kaum modal lebih merajai perekonomian negara ketimbang kaum buruh. Selain itu, peran pemerintah dalam perbaikan nasib buruh semakin lama semakin berkurang. Hal ini membuat posisi buruh menjadi semakin sulit. Meski sekarang pemerintah menempatkan posisi buruh dan pengusaha secara fair (sejajar­-Red). Namun, dilihat dari aspek manapun posisi buruh tetap saja lebih lemah daripada pengusaha. Contohnya, bila ada perselisihan yang dibawa ke Departemen Tenaga Kerja, mediator di sana selalu menekankan bahwa posisi mereka adalah netral, tidak memihak siapapun.

 

Apakah nasib buruh di Indonesia pada masa sekarang mengalami peningkatan bila dibandingkan nasib buruh pada jaman dahulu?

Permasalahan ini dapat dijawab dari dua sisi. Di satu sisi, reformasi telah membuat buruh semakin bebas untuk berekspresi. Contohnya, buruh semakin bebas membuat serikat buruh lebih banyak dibandingkan jaman dahulu. Namun, di sisi lain posisi buruh semakin lama semakin lemah. Dulu, pemerintah lebih mengayomi kaum buruh. Kalau sekarang perannya semakin berkurang. Makanya buruh semakin gampang dibodohi karena mereka ”cari aman” saja daripada dipecat.

 

Bagaimanakah nasib buruh di Indonesia bila dibandingkan dengan negara lain?

Tergantung dengan siapa Indonesia dibandingkan. Bila dibandingkan dengan negara-negara maju tentu saja berbeda jauh di atas. Ada pula yang nasibnya jauh lebih parah daripada buruh di Indonesia. Namun, di Indonesia kesejahteraan selalu dibandingkan dengan jumlah upah yang diterima. Padahal tidak selalu seperti itu. Contohnya seperti di Cina. Wakil Presiden kita, Bapak Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa gaji buruh di Indonesia lebih tinggi daripada gaji buruh di Cina. Namun, segala kebutuhan buruh di Cina dari mulai pendidikan, perumahan, kesehatan, dan lain-lain sudah dijamin oleh negara, sehingga mereka tidak perlu menanggungnya sendiri. Berbeda dengan di Indonesia, segala kebutuhan buruh menjadi tanggungan diri sendiri.

 

Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh?

Karena sistem yang berkembang adalah mekanisme pasar, maka yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah lebih menekankan perannya dalam permasalahan yang menyangkut buruh. Pemerintah juga harus melindungi dan mendampingi kaum buruh bila ada masalah.


Apakah yang harus dilakukan kaum buruh sendiri agar kesejahteraannya meningkat?

Pertama, tentu saja kaum buruh harus mengetahui hak-hak dasar mereka Lalu di tingkat perusahaan, penting bagi buruh untuk membentuk sebuah perserikatan. Dari perserikatan ini, mereka dapat mengetahui arus perputaran uang dan mengerti kondisi perusahaan mereka agar tidak dibodohi sewaktu membuat perjanjian kerja bersama. Untuk tingkat nasional, kebijakan-kebijakan yang dirumuskan di perserikatan harus diadvokasikan. Hal yang dapat dilakukan adalah menyebarkan isu krusial tentang buruh kepada masyarakat. Selain itu, hal ini dapat digunakan untuk menekan kaum modal dan pemerintah agar nasib mereka lebih diperhatikan.

 


 
Reality Show dan Masyarakat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arin,Tanti   

Beberapa tahun terakhir, acara televisi berbentuk reality show marak menghiasi layar kaca. Kebanyakan memiliki konsep eksploitasi terhadap sisi negatif manusia. Misalnya, reality show yang mengerjai orang hingga malu, mengekspos perilaku menyimpang seseorang, dan sebagainya. Masyarakat pun cenderung menggemari reality show semacam itu. Lantas, muncul suatu pertanyaan, mengapa masyarakat memiliki minat besar terhadap reality show yang memperolok orang lain seperti itu?

Menanggapi hal tersebut, Drs Helly P Soetjipto MA, psikolog sosial yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Urusan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UGM, berkenan membagikan pendapatnya.


Berdasarkan suatu data, rating program reality show tersebut rata-rata tinggi. Ini mengindikasikan banyak orang yang menyukai program tersebut. Menurut Bapak, apa yang menyebabkan masyarakat menyukai acara semacam itu?

Pertama, pastikan dulu apa benar rating yang tinggi itu sudah merepresentasikan minat masyarakat. Kalaupun benar, memang itu sesuai dengan beberapa teori psikologi. Manusia itu memiliki automatic vigilance, yaitu kecenderungan untuk lebih cepat menangkap dan memroses informasi negatif. Ditambah lagi, informasi dari multimedia lebih mudah masuk ke otak karena berbentuk gambar dan suara.

Kenapa kemudian banyak yang jadi suka, kita bisa menilik teori perbandingan sosial. Manusia itu jika berada dalam situasi sulit, akan cenderung untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Bisa dengan orang yang situasinya lebih sulit, atau yang lebih beruntung. Televisi menyediakan hal itu, melalui reality show yang ditayangkan orang bisa melihat orang lain yang berada dalam kejadian lebih sulit dari mereka.


Jadi fenomena ini mengindikasikan apa?

Jika masyarakat menikmati mencemooh orang lain, berarti selera humornya masih berada pada tingkat yang paling rendah. Sayangnya kekurangcerdasan masyarakat ini dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.


Jadi sebetulnya minat masyarakat yang besar terhadap acara ini berdampak baik atau buruk?

Dampak baik atau buruk itu tergantung hal lain. Masalah yang terjadi di sini adalah, minat itu dieksploitasi besar-besaran oleh pihak yang mencari keuntungan. Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar, tentu jadi sasaran bagi pemilik modal. Akhirnya, jumlah reality shownya jadi sangat banyak. Masyarakat jadi semakin tidak memiliki keinginan untuk mencari informasi yang lebih penting, need for cognition-nya rendah.


Kalau begitu, bagaimana cara mengatasinya?

Sudah ada sistem yang mengarah ke usaha penyelesaian, misalnya dengan adanya komisi penyiaran. Sayangnya, ada berapa orang yang memiliki idealisme seperti itu?


Dari Bapak sendiri, apakah ada saran untuk masyarakat ?

Sarannya, bisa dengan cara memperkuat keluarga dan pribadi masing-masing, agar tidak terpengaruh oleh perubahan dan tren negatif yang muncul dari televisi.

 
Klenik di Jaman Modern PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Candraditya, Yogi   

Di era yang telah memasuki babak modern ini, ternyata masih ada sebagian masyarakat yang tetap teguh meletakkan nasibnya pada hal-hal klenik/mistik. Lihat saja fenomena yang baru-baru ini muncul, yaitu dukun cilik Ponari yang konon bisa menyembuhkan penyakit dengan “batu petirnya”. Beribu orang rela berbondong-bondong ke rumah Ponari untuk mendapat kesembuhan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa masyarakat yang notabene hidup di jaman modern ini masih saja percaya pada hal-hal klenik? Mengenai hal ini, sosiolog Drs. Soeprapto SU yang juga dosen Jurusan Sosiologi UGM memiliki tanggapan sendiri.


Fenomena kepercayaan terhadap hal-hal klenik kini masih bisa ditemui di masyarakat, bahkan makin marak. Misalnya, kasus Ponari. Sebenarnya, faktor apa yang menyebabkannya?

Untuk kasus Ponari, dapat dijelaskan bahwa saat ini kebutuhan akan pelayanan kesehatan sangat penting. Namun ada beberapa kendala seperti faktor ekonomi. Selain itu, mereka memanfaatkan hal-hal yang berbau klenik karena kurangnya pengetahuan masyarakat secara ilmiah. Misalnya dalam kasus Ponari, seharusnya kita melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu terhadap batu tersebut. Apakah benar pasien-pasien itu sembuh karena batu petir, atau karena faktor psikologis. Semua itu harus diteliti terlebih dahulu.


Apa yang menyebabkan masyarakat Indonesia masih percaya dengan hal-hal klenik?

Penyebabnya adalah tingkat pengetahuan terhadap masyarakat belum lancar. Seperti yang saya ungkapkan tadi, pengetahuan masyarakat secara ilmiah masih kurang.


Apakah kepercayaan terhadap hal-hal mistis ini juga disebabkan oleh budaya tradisional yang melekat sejak dulu?

Bisa jadi ini memang sebuah budaya. Pada dasarnya, terbentuknya sebuah budaya dilalui beberapa proses. Pertama, adanya sebuah tindakan. Setelah itu, adanya perenungan karena terdapat bukti nyata. Kemudian, menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi sebuah budaya.


Bagaimana Bapak sebagai sosiolog menyikapi fenomena ini?

Seharusnya masyarakat dijelaskan secara ilmiah terhadap fenomena yang terjadi. Sehingga harapan kita suatu saat nanti masyarakat tahu bahwa ada penjelasan ilmiah terhadap fenomena tersebut. Contoh saja fenomena yang terjadi pada daerah saya tinggal, di sana ada sebuah lembah sungai atau tebing yang terdapat sebuah retakan yang bisa mengeluarkan cahaya seperti bola api. Masyarakat sekitar menganggap bahwa itu adalah lampor, sejenis makhluk halus yang berbentuk seperti bola api, sehingga timbul pemikiran ada hal mistis pada daerah tersebut. Setelah saya lakukan penelitian, ternyata di atas tebing tersebut ada sebuah pemakaman. Setelah saya teliti, yang menyebabkan keluarnya api di tebing tersebut bukanlah hal-hal mistis. Tapi, di daerah tersebut terdapat pemakaman, yang ternyata jenazah yang telah menjadi tulang mengandung fosfor. Fosfor tersebut keluar melalui retakan atau lubang yang ada di tebing sungai tersebut, sehingga menimbulkan api.


Hikmah apa yang bisa diambil dari fenomena ini?

Tuhan memberikan jalan kepada manusia dengan berbagai cara, mungkin dengan cara ekonomi, kesehatan dan psikis. Dan untuk menjalaninya harus tetap memiliki pemikiran yang rasional.

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 3 dari 3