| Saatnya Kembali Bersepeda |
|
|
|
| Ditulis oleh Fany |
|
“Kring..kring..kring.. ada speda. Spedaku roda tiga. Kudapat dari ayah karna rajin bekerja.” Lagu gembira tentang sepeda itu kini mungkin sudah sedikit bergeser. Kota Motor, inilah yang kiranya menjadi julukan baru di beberapa kota, termasuk Yogyakarta.
Perkembangan saat ini Kecanggihan teknologi memacu manusia untuk menjadi lebih dinamis. Cepat, nyaman, dan praktis menjadi alasan beralihnya penggunaan sepeda menjadi kendaraan bemotor. Amati saja, saat ini jumlah pengguna sepeda dapat dihitung dengan jari. Bukan hanya itu, gengsi juga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan masyarakat ogah memanfaatkan kendaraan roda dua yang awalnya berasal dari Prancis ini. Ditambah lagi, saat ini produk-produk kendaraan bermotor semakin variatif dari segi harga dan pilihan. Satu lagi yang cukup membuat enggan untuk bersepeda adalah keselamatan pengendaranya sendiri yang kerap terabaikan. Menjawab kekhawatiran tersebut, seperti halnya yang dilansir dalam Harian Sindo, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mulai merealisasikan jalur khusus sepeda di beberapa titik di Jogja. Jalur ini terbentang di 34 penggal jalan raya dan 138 jalan kampung (gang). Menurut Kabid Lalu Lintas Angkutan dan Pengendalian Operasional Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Purnomo Raharjo, pembuatan jalur sepeda ini dalam rangka menyukseskan Program Sego Segawe (Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe). Diharapkan program ini nantinya bisa mengatasi masalah lalu lintas, termasuk mengurangi pencemaran lingkungan. “Dengar-dengar, setiap Jumat dan Sabtu, nantinya PNS(Pegawai Negeri Sipil,-Red) dihimbau untuk ke kantor dengan mengendarai sepeda,” kata Catur.
Budaya bersepeda Negara Kincir Angin mungkin bisa menjadi kiblat untuk membangkitkan kembali kebiasaan bersepeda. Di Belanda, sepeda merupakan alat transportasi utama segala lapisan masyarakat. Bisa dikatakan, bersepeda sudah mengakar kuat dalam gaya hidup masyarakatnya. Pemerintah Belanda sendiri membangun Fiets Pad atau jalan khusus sepeda untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pengendara sepeda. Sedangkan di negara kita, misalnya Yogyakarta, walaupun sudah direalisasikan selama sekitar satu bulan tampaknya keberadaan rute khusus sepeda belum mendapat perhatian. “Sudah tahu sih, tapi tidak pernah nglewatin jalannya,” terang Bowo (Kedokteran ‘07). Hal ini juga terbukti dengan masih banyaknya kendaraan bermotor yang melintas di jalanan tersebut. “Selama tidak ada larangan bagi kendaraan bermotor untuk melewati rute tersebut, kami tidak bisa menindak mereka,” tambah Catur. Tak pelak, kemacetan masih saja tidak bisa dihindari. Kebiasaan bersepeda perlahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat kita. Padahal sebenarnya banyak manfaat yang dapat kita ambil dari bersepeda. Sepeda merupakan kendaraan yang ramah lingkungan serta membuat tubuh dan pikiran pun fresh. “Lumayanlah, kalau setiap hari minimal 20 menit bersepeda, bikin seger,” tambah Faisal. Segala fasilitas yang ada tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kesadaran dari diri kita masing-masing untuk mulai membiasakan bersepeda. Jadi, selamat berpetualang dengan sepeda Anda dan temukan sendiri manfaatnya. |






