SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Konser 60 Tahun UGM, Sebuah Kepedulian Untuk Bangsa PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Godfrida Inta   

Sebuah konser musik akbar kembali digelar UGM, Sabtu(17/10) kemarin. Konser yang bertajuk “Konser 60 Tahun UGM Peduli” ini merupakan puncak dari rangkaian acara dalam memperingati hari jadi UGM ke-60.

Konser yang bertempat di gedung Grha Sabha Pramana UGM ini bukan sembarang konser, namun mengusung misi mulia. Selain mengajak audiens untuk lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa, juga misi mendukung satwa komodo untuk diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban di dunia. Hal ini lantaran Taman Nasional Komodo NTT masuk dalam 28 besar finalis tujuh keajaiban dunia.

Karena mengusung misi budaya, maka rangkaian acara dari awal hingga akhir kental bernuansa budaya tradisional. Teristimewa, para penampil yang mengisi acara pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Konser dibuka dengan penampilan Peni yang membawakan tembang Jawa. Lantas, penyanyi kondang Krisdayanti menyapa audiens dengan melantunkan lagu Assalamualaikum, dengan iringan World Peace Orchestra di bawah komando Dwiki Darmawan. Perjalanan budaya pun berlanjut, Rafly, penyanyi Aceh melantunkan Ya Rabbanaa dan Meukeondroe lengkap dengan cengkoknya yang khas. Audiens yang semula agak sepi, sontak bersorak riuh ketika Dewa Budjana memetik gitar dengan distorsi bernuansa jazz. Tak ketinggalan, lantunan lagu Ilir-Ilir dari Jawa, musik gamelan ritmis dari Bali, permainan Sasando dari NTT, serta hentakan lagu Benggong-Banggong yang mampu mengajak audiens berdiri dan bergoyang mengikuti ritme musik.

Selain penampilan para musisi, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan tari-tarian tradisional dari daerah Jawa dan Bali. Konser yang berlangsung sekitar tiga jam itu ditutup dengan tembang Zikir Tak Putus-Putus yang dilantunkan Krisdayanti dengan semua pendukung acara.

Konser dengan nuansa budaya ini mendapat respon positif dari audiens. Seperti yang dituturkan Tissa, “Konsep konser ini bagus sih, enggak cuma konser hura-hura, tapi ada misi budayanya. Jadi makin sadar kalau Indonesia kaya akan budaya.” Demikian pula yang disampaikan Anton (MIPA UGM ’09), “Konser ini sudah tepat banget mengambil konsep budaya, soalnya akhir-akhir ini kan lagi sering terjadi pengklaiman budaya oleh negara tetangga. Dengan begitu kita bisa mencintai budaya kita, jangan sampai kecolongan lagi.”

Meski banyak yang merasa puas dengan konser ini, namun ada pula yang berpendapat lain. “Wah konsernya boring banget, apalagi waktu di awal-awal. Menurutku terlalu monoton. Artis-artisnya juga enggak komunikatif, “ ujar Laila (Ilmu Ekonomi ’09). Hal ini juga diamini Fahri, “Kemasan acaranya bikin bosan. Kalau dari segi performance, orkestranya kurang ramai, Krisdayanti juga kurang greget, enggak seperti yang kuharapkan. Aku malah lebih menikmati PSM (Paduan Suara Mahasiswa, -Red) daripada artis-artisnya,” lontar Fahri.

Meski tak memenuhi kepuasan semua audiens, namun pesan konser tersebut perlu dicamkan. Bahwa, kepedulian akan budaya bangsa adalah tanggung jawab kita semua.