|
Ditulis oleh Bela
|
|
Tak perlu merasa kawatir bila tak bisa pulang kampung untuk meramaikan pesta demokrasi rakyat yang sebentar lagi akan akan digelar. Untuk mahasiswa UGM khususnya yang berasal dari luar kota, BEM KM UGM telah membentuk Tim Garda Pemilu (TGP) yang bekerja sama dengan HMP (Himpunan Mahasiswa Pasca Sarjana), BEM fakultas, dan KPUD Provinsi DIY. Pembentukan TGP ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta agar tetap bisa berpartisipasi dalam Pemilu tanpa harus pulang kampung. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari TGP, UGM menjadi satu-satunya universitas yang telah siap melayani mutasi Pemilu mahasiswanya. Ini dikarenakan UGM memiliki TGP yang sudah diresmikan dan diperkenalkan. “Untuk sosialisasi sendiri, TGP bekerja sama dengan beberapa media cetak, panwas, KPUD, dan parpol,” ungkap Ridwan (Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM '07), koordinator TGP. Mekanisme mutasi Pemilu yang dibentuk TGP ada 2 macam. Pertama, menyerahkan berkas-berkas persyaratan ke KPUD Provinsi DIY. Selanjutnya, diserahkan ke pusat, karena tidak dimungkinkan mengadakan pemilu di kampus. Sedangkan cara yang kedua adalah langsung menggunakan surat mutasi A5. “Kami akan melakukuan semaksimal mungkin, walaupun kadang kelurahan tempat tinggal pemilih kurang paham dengan surat mutasi A5,” ungkap Ridwan. Kebijakan BEM KM UGM dalam melayani mutasi Pemilu ini mendapat respon positif dari mahasiswa. Sedikitnya 1.173 mahasiswa telah mendaftar hingga hari penutupan, yaitu Kamis (19/3) pukul 18.00 WIB. Beberapa mahasiswa pun berkomentar positif. Salah satunya, Lely (Jurusan Pertanian UGM '08),“Bagus sih UGM mengadakan mutasi Pemilu di sini. Memang sudah seharusnya kampus sebesar UGM mempunyai layanan mutasi untuk mahasiswa dari luar kota.” Namun, di sisi lain, prosedur persyaratan agar dapat memilih dengan mutasi Pemilu terbilang cukup rumit. Itulah yang menjadi salah satu kendala banyaknya mahasiswa yang malas untuk memilih pada Pemilu tahun ini. “Rumit untuk mengurus surat-surat dari rumah, belum lagi harus dikirim ke sini,” ungkap Siti (Jurusan Biologi '08), mahasiswa asal Medan. Meski masih terdapat kelemahan, inisiatif pembentukan layanan mutasi Pemilu ini diharapkan dapat diikuti kampus-kampus lain. “Semoga di tahun-tahun berikutnya BEM KM UGM bisa melibatkan dan bekerja sama dengan BEM se-Jogja dengan melakukan aksi nyata untuk bangsa ini,” harap Ridwan mengakhiri. |
|
Ditulis oleh Gita, Nindi
|
|
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM baru-baru ini menyelenggarakan gelar budaya yang lain dari biasanya. Kegiatan yang bertajuk Discovery of Culture ini memiliki konsep kolaborasi budaya tradisional dengan budaya modern. Kegiatan yang merupakan rangkaian dies natalis ini menyuguhkan penampilan dari 13 jurusan di FIB. “Tiap jurusan menampilkan sesuatu yang mencerminkan jurusan mereka, misalnya jurusan Sastra Korea menampilkan Tarian Korea,” papar Alfi (Sastra Perancis ’07), ketua panitia. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kembali budaya tradisional yang selama ini terkesan diabaikan oleh mahasiswa maupun masyarakat umum karena pengaruh westernisasi. “Kami menggabungkan budaya tradisional dan modern sehingga menciptakan sesuatu yang baru. Acara ini juga nggak cuma menampilkan kultur Indonesia, tapi juga memperkenalkan kultur lainnya,” tandas Alfi. Rangkaian acara yang berlangsung selama 3 hari (18-20/3) ini ditutup dengan penyerahan award bagi jurusan yang telah memberikan penampilan terbaik dan terfavorit. Juga dimeriahkan oleh dance dan kethoprak band yang mengisahkan tentang Ki Joko Bodo dan Ki Joko Wasis dari FIB serta bintang tamu seperti Gayam 16, Doubth Youth, Sastro Moeni, Stupa Percussion, dan Sujud Sutrisno. Gelar Budaya ini cukup mengundang ketertarikan bagi mahasiswa FIB. “Yang bikin aku tertarik sama acara ini adalah adanya penampilan dari tiap-tiap jurusan. Soalnya sudah lama nggak tampil seperti ini,” ungkap Lala (Antropologi ’08). Hal senada juga diungkapkan Felix (Sastra Korea’07),“Acaranya asyik banget, nggak sia-sia nonton.” “Tapi untuk ke depannya, mending acara seperti ini tempatnya di luar FIB, agar peminatnya tidak hanya kalangan UGM saja, tapi juga kalangan luas,” harapnya. |
|
|
Ditulis oleh Yogi
|
|
Tak seperti biasa, 27-29 Maret ini Kawasan Hall University Club (UC) UGM dipenuhi berbagai macam stan kuliner dan panggung hiburan. Rupanya selama 3 hari tersebut digelar acara bertajuk “Festival Anak Muda dan Pesta Kuliner Gaul 2009”. Latar belakang digelarnya acara ini menurut Alina Sari Hartono selaku GM Marketing dan Operasional event organizer CITA, karena kuliner tengah marak sekarang ini. Tak hanya terbatas kalangan orangtua saja, namun juga digemari anak muda. Karenanya, potensi anak muda harus diwadahi dan diapresiasi melalui pameran hasil karya mereka. “Tujuan lebih lanjut, acara ini diadakan untuk mendukung kota Jogja menjadi kota kuliner,” tutur Alina. Terdapat cukup banyak stan jajanan kuliner yang tampak di halaman gedung UC. “Ada sekitar 40 stan yang berpartisipasi dalam acara ini. Makanan yang disajikan bervariasi dan kebanyakan disukai anak-anak muda,” terang Ana selaku ketua pelaksana. Acara ini pun mendapat banyak perhatian masyarakat dan mahasiswa, tampak dari ramainya pengunjung yang datang. Subah (Fakultas Peternakan UGM ’04) misalnya, sangat mengapresiasi adanya festival kuliner semacam ini. “Bagus, dan saya sangat mengapresiasi acara ini. Tapi sayang, makanan tradisonalnya kurang bervariasi,” ujarnya. Selain menyuguhkan berbagai jajanan kuliner, acara yang buka pukul 09.30-22.00 WIB ini juga menghadirkan berbagai program acara yang menarik. Misalnya, fashion show, juggling competition, clinic DJ, extreme sport, modern dance competition, unique couple style, dan lomba karaoke. “Selain program acara yang bersifat lomba, ada juga community highlight. Sebuah program acara di mana beberapa komunitas memperkenalkan profil komuinitas, sehingga memberi informasi kepada para pengunjung. Nah, tindak lanjutnya mungkin pengunjung bisa ikut bergabung dalam komunitas tersebut,” terang Alina. |
|
Ditulis oleh Ontin
|
|
Pan-Asian Retailing Simulation Game 2009 (PARSG 2009) kembali digelar untuk kedua kalinya di Indonesia. Kompetisi berbasis internet untuk simulasi strategi bisnis ritel ini terbuka bagi mahasiswa-mahasiswa S1, S2, dan S3 dari semua jurusan sekolah bisnis di seluruh Indonesia. Tujuan utama kompetisi ini adalah meningkatkan dan memperluas pemahaman para mahasiswa mengenai bisnis ritel di wilayah Asia. Penelitian dan Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (PPM FEB UGM) kembali dipercaya untuk menyelenggarakan kompetisi ini di tingkat Indonesia. “Kami kembali ditunjuk oleh Departemen Administrasi Bisnis National Central University of Taiwan sebagai EO (Event Organizer, -Red) lokal untuk Indonesia,” terang Mirdy, panitia PARSG-Indonesia 2009. Sebanyak 200 tim telah terdaftar sebagai peserta. Sejumlah universitas ternama di Indonesia turut berpartisipasi, di antaranya UGM, UI, ITB, ITS, UNS, IT TELKOM, IPB, UPH, UNDIP, dan UNPAD. 200 tim tersebut akan bersaing untuk menjadi wakil dari Indonesia, yang lantas mengikuti kompetisi final di Taiwan untuk memperebutkan hadiah sebesar US$ 10,000. Pendaftaran PARSG sendiri terbilang cukup mudah. Setelah membayar Rp 50.000,00 per tim yang beranggotakan 3 orang ke rekening PPM FEB UGM, peserta diminta mengirimkan bukti pembayaran, formulir aplikasi, dan KTM via email panitia PARSG 2009. Setelah konfirmasi selesai, peserta akan mendapatkan nama grup, nomor ID, dan password yang diperlukan untuk login ke platform CSM (Chain Store Master) dengan server utama di Taiwan. “Keseluruhan simulasi kompetisi diatur oleh pihak Taiwan, kami di sini hanya mengarahkan peserta dari Indonesia saja,” tandas Mirdy. Selanjutnya, para peserta akan bersaing untuk mengelola 3 toko ritel dalam 3 segmen pasar yang berbeda dengan menggunakan program CSM. Menariknya, setiap keputusan manajerial yang diambil oleh tiap perusahaan akan mempengaruhi keputusan perusahaan lain untuk merebutkan pasar yang sama. “Tim pemenang pada tingkat lokal nanti akan berpartisipasi dalam kompetisi final PARSG 2009 yang akan diselenggarakan awal Mei 2009 di National Central University Taiwan,” tutur Mirdy. |
|