| Sampah Kembali Berulah |
|
|
|
| Ditulis oleh Reta |
|
Di kampus seluas UGM, permasalahan sampah seolah tak ada habisnya. Sejumlah titik mengundang keluhan karena digunakan sebagai tempat penimbunan sampah. Salah satunya, di belakang D3 Ekonomi yang berhadapan dengan wilayah perumahan dosen. “Kami juga tidak suka kalau lingkungan sini kotor. Kan mengganggu,” tutur Payo, warga perumahan yang tinggal berdekatan dengan tumpukan sampah itu. Menurutnya, sampah tersebut berasal dari warga sekitar atau orang yang melintas di jalan tersebut. Usaha yang telah dilakukan oleh warga sekitar pun belum menjadi solusi. “Paling biasanya kami sapu. Tapi kalau dibakar nggak boleh sama petugas (Satuan Keamanan dan Ketertiban Kampus, -Red),” jelasnya. Pernyataan Payo tersebut dibenarkan oleh R. Deda Suwandi SMIK SE, Komandan SKKK. “Sampah itu memang tidak boleh dibakar. Selain rawan menimbulkan kebakaran, asapnya juga bisa menganggu,” jelasnya. Hartoyo, Kepala Satuan Kebersihan dan Pertamanan (SKP), menuturkan bahwa antara satuannya dan pihak perumahan dosen sudah memiliki ketetapan sendiri dalam mengatur sampah yang ada disana. “Jadi, sebenarnya tidak ada masalah apapun,” tegasnya. Dia menjelaskan sampah yang terlihat disana itu ialah sampah yang tak sempat diangkut oleh armada SKP tiap harinya. “Tapi pasti besoknya sudah diangkut,” lanjut Hartoyo. Keluhan terhadap sampah juga dilontarkan oleh para mahasiswa yang seringkali lewat di kawasan tersebut. “Kalau hujan atau sampahnya lagi numpuk, baunya nggak enak dan mengganggu,” tutur Alam (Hukum ‘06) yang selalu berjalan kaki lewat kawasan itu. Penyelesaian masalah sampah ini membutuhkan koordinasi dari semua pihak, baik warga sekitar tempat penimbunan maupun petugas. “Kami juga mau kok kalau disuruh bersih-bersih secara sukarela,” tandas Payo. |






