SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Bulaksumur Online
Reality Show dan Masyarakat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arin,Tanti   
Selasa, 31 Maret 2009 21:02

Beberapa tahun terakhir, acara televisi berbentuk reality show marak menghiasi layar kaca. Kebanyakan memiliki konsep eksploitasi terhadap sisi negatif manusia. Misalnya, reality show yang mengerjai orang hingga malu, mengekspos perilaku menyimpang seseorang, dan sebagainya. Masyarakat pun cenderung menggemari reality show semacam itu. Lantas, muncul suatu pertanyaan, mengapa masyarakat memiliki minat besar terhadap reality show yang memperolok orang lain seperti itu?

Menanggapi hal tersebut, Drs Helly P Soetjipto MA, psikolog sosial yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Urusan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UGM, berkenan membagikan pendapatnya.


Berdasarkan suatu data, rating program reality show tersebut rata-rata tinggi. Ini mengindikasikan banyak orang yang menyukai program tersebut. Menurut Bapak, apa yang menyebabkan masyarakat menyukai acara semacam itu?

Pertama, pastikan dulu apa benar rating yang tinggi itu sudah merepresentasikan minat masyarakat. Kalaupun benar, memang itu sesuai dengan beberapa teori psikologi. Manusia itu memiliki automatic vigilance, yaitu kecenderungan untuk lebih cepat menangkap dan memroses informasi negatif. Ditambah lagi, informasi dari multimedia lebih mudah masuk ke otak karena berbentuk gambar dan suara.

Kenapa kemudian banyak yang jadi suka, kita bisa menilik teori perbandingan sosial. Manusia itu jika berada dalam situasi sulit, akan cenderung untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Bisa dengan orang yang situasinya lebih sulit, atau yang lebih beruntung. Televisi menyediakan hal itu, melalui reality show yang ditayangkan orang bisa melihat orang lain yang berada dalam kejadian lebih sulit dari mereka.


Jadi fenomena ini mengindikasikan apa?

Jika masyarakat menikmati mencemooh orang lain, berarti selera humornya masih berada pada tingkat yang paling rendah. Sayangnya kekurangcerdasan masyarakat ini dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.


Jadi sebetulnya minat masyarakat yang besar terhadap acara ini berdampak baik atau buruk?

Dampak baik atau buruk itu tergantung hal lain. Masalah yang terjadi di sini adalah, minat itu dieksploitasi besar-besaran oleh pihak yang mencari keuntungan. Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar, tentu jadi sasaran bagi pemilik modal. Akhirnya, jumlah reality shownya jadi sangat banyak. Masyarakat jadi semakin tidak memiliki keinginan untuk mencari informasi yang lebih penting, need for cognition-nya rendah.


Kalau begitu, bagaimana cara mengatasinya?

Sudah ada sistem yang mengarah ke usaha penyelesaian, misalnya dengan adanya komisi penyiaran. Sayangnya, ada berapa orang yang memiliki idealisme seperti itu?


Dari Bapak sendiri, apakah ada saran untuk masyarakat ?

Sarannya, bisa dengan cara memperkuat keluarga dan pribadi masing-masing, agar tidak terpengaruh oleh perubahan dan tren negatif yang muncul dari televisi.

 
BEM KM UGM Siap Layani Mutasi Pemilu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Bela   
Selasa, 31 Maret 2009 21:01

Tak perlu merasa kawatir bila tak bisa pulang kampung untuk meramaikan pesta demokrasi rakyat yang sebentar lagi akan akan digelar. Untuk mahasiswa UGM khususnya yang berasal dari luar kota, BEM KM UGM telah membentuk Tim Garda Pemilu (TGP) yang bekerja sama dengan HMP (Himpunan Mahasiswa Pasca Sarjana), BEM fakultas, dan KPUD Provinsi DIY. Pembentukan TGP ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta agar tetap bisa berpartisipasi dalam Pemilu tanpa harus pulang kampung.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari TGP, UGM menjadi satu-satunya universitas yang telah siap melayani mutasi Pemilu mahasiswanya. Ini dikarenakan UGM memiliki TGP yang sudah diresmikan dan diperkenalkan. “Untuk sosialisasi sendiri, TGP bekerja sama dengan beberapa media cetak, panwas, KPUD, dan parpol,” ungkap Ridwan (Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM '07), koordinator TGP.

Mekanisme mutasi Pemilu yang dibentuk TGP ada 2 macam. Pertama, menyerahkan berkas-berkas persyaratan ke KPUD Provinsi DIY. Selanjutnya, diserahkan ke pusat, karena tidak dimungkinkan mengadakan pemilu di kampus. Sedangkan cara yang kedua adalah langsung menggunakan surat mutasi A5. “Kami akan melakukuan semaksimal mungkin, walaupun kadang kelurahan tempat tinggal pemilih kurang paham dengan surat mutasi A5,” ungkap Ridwan.

Kebijakan BEM KM UGM dalam melayani mutasi Pemilu ini mendapat respon positif dari mahasiswa. Sedikitnya 1.173 mahasiswa telah mendaftar hingga hari penutupan, yaitu Kamis (19/3) pukul 18.00 WIB. Beberapa mahasiswa pun berkomentar positif. Salah satunya, Lely (Jurusan Pertanian UGM '08),“Bagus sih UGM mengadakan mutasi Pemilu di sini. Memang sudah seharusnya kampus sebesar UGM mempunyai layanan mutasi untuk mahasiswa dari luar kota.”

Namun, di sisi lain, prosedur persyaratan agar dapat memilih dengan mutasi Pemilu terbilang cukup rumit. Itulah yang menjadi salah satu kendala banyaknya mahasiswa yang malas untuk memilih pada Pemilu tahun ini. “Rumit untuk mengurus surat-surat dari rumah, belum lagi harus dikirim ke sini,” ungkap Siti (Jurusan Biologi '08), mahasiswa asal Medan.

Meski masih terdapat kelemahan, inisiatif pembentukan layanan mutasi Pemilu ini diharapkan dapat diikuti kampus-kampus lain. “Semoga di tahun-tahun berikutnya BEM KM UGM bisa melibatkan dan bekerja sama dengan BEM se-Jogja dengan melakukan aksi nyata untuk bangsa ini,” harap Ridwan mengakhiri.

 
Perpaduan Tradisional dan Modern dalam Gelar Budaya PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Gita, Nindi   
Selasa, 31 Maret 2009 20:56

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM baru-baru ini menyelenggarakan gelar budaya yang lain dari biasanya. Kegiatan yang bertajuk Discovery of Culture ini memiliki konsep kolaborasi budaya tradisional dengan budaya modern.

Kegiatan yang merupakan rangkaian dies natalis ini menyuguhkan penampilan dari 13 jurusan di FIB. “Tiap jurusan menampilkan sesuatu yang mencerminkan jurusan mereka, misalnya jurusan Sastra Korea menampilkan Tarian Korea,” papar Alfi (Sastra Perancis ’07), ketua panitia.

Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kembali budaya tradisional yang selama ini terkesan diabaikan oleh mahasiswa maupun masyarakat umum karena pengaruh westernisasi. “Kami menggabungkan budaya tradisional dan modern sehingga menciptakan sesuatu yang baru. Acara ini juga nggak cuma menampilkan kultur Indonesia, tapi juga memperkenalkan kultur lainnya,” tandas Alfi.

Rangkaian acara yang berlangsung selama 3 hari (18-20/3) ini ditutup dengan penyerahan award bagi jurusan yang telah memberikan penampilan terbaik dan terfavorit. Juga dimeriahkan oleh dance dan kethoprak band yang mengisahkan tentang Ki Joko Bodo dan Ki Joko Wasis dari FIB serta bintang tamu seperti Gayam 16, Doubth Youth, Sastro Moeni, Stupa Percussion, dan Sujud Sutrisno.

Gelar Budaya ini cukup mengundang ketertarikan bagi mahasiswa FIB. “Yang bikin aku tertarik sama acara ini adalah adanya penampilan dari tiap-tiap jurusan. Soalnya sudah lama nggak tampil seperti ini,” ungkap Lala (Antropologi ’08). Hal senada juga diungkapkan Felix (Sastra Korea’07),“Acaranya asyik banget, nggak sia-sia nonton.” “Tapi untuk ke depannya, mending acara seperti ini tempatnya di luar FIB, agar peminatnya tidak hanya kalangan UGM saja, tapi juga kalangan luas,” harapnya.

 
Ajang Kuliner dan Kreasi Anak Muda PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yogi   
Selasa, 31 Maret 2009 20:57

Tak seperti biasa, 27-29 Maret ini Kawasan Hall University Club (UC) UGM dipenuhi berbagai macam stan kuliner dan panggung hiburan. Rupanya selama 3 hari tersebut digelar acara bertajuk “Festival Anak Muda dan Pesta Kuliner Gaul 2009”.

Latar belakang digelarnya acara ini menurut Alina Sari Hartono selaku GM Marketing dan Operasional event organizer CITA, karena kuliner tengah marak sekarang ini. Tak hanya terbatas kalangan orangtua saja, namun juga digemari anak muda. Karenanya, potensi anak muda harus diwadahi dan diapresiasi melalui pameran hasil karya mereka. “Tujuan lebih lanjut, acara ini diadakan untuk mendukung kota Jogja menjadi kota kuliner,” tutur Alina.

Terdapat cukup banyak stan jajanan kuliner yang tampak di halaman gedung UC. “Ada sekitar 40 stan yang berpartisipasi dalam acara ini. Makanan yang disajikan bervariasi dan kebanyakan disukai anak-anak muda,” terang Ana selaku ketua pelaksana.

Acara ini pun mendapat banyak perhatian masyarakat dan mahasiswa, tampak dari ramainya pengunjung yang datang. Subah (Fakultas Peternakan UGM ’04) misalnya, sangat mengapresiasi adanya festival kuliner semacam ini. “Bagus, dan saya sangat mengapresiasi acara ini. Tapi sayang, makanan tradisonalnya kurang bervariasi,” ujarnya.

Selain menyuguhkan berbagai jajanan kuliner, acara yang buka pukul 09.30-22.00 WIB ini juga menghadirkan berbagai program acara yang menarik. Misalnya, fashion show, juggling competition, clinic DJ, extreme sport, modern dance competition, unique couple style, dan lomba karaoke. “Selain program acara yang bersifat lomba, ada juga community highlight. Sebuah program acara di mana beberapa komunitas memperkenalkan profil komuinitas, sehingga memberi informasi kepada para pengunjung. Nah, tindak lanjutnya mungkin pengunjung bisa ikut bergabung dalam komunitas tersebut,” terang Alina.

 
<< Mulai < Sebelumnya 11 12 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 12 dari 12