|
Beberapa tahun terakhir, acara televisi berbentuk reality show marak menghiasi layar kaca. Kebanyakan memiliki konsep eksploitasi terhadap sisi negatif manusia. Misalnya, reality show yang mengerjai orang hingga malu, mengekspos perilaku menyimpang seseorang, dan sebagainya. Masyarakat pun cenderung menggemari reality show semacam itu. Lantas, muncul suatu pertanyaan, mengapa masyarakat memiliki minat besar terhadap reality show yang memperolok orang lain seperti itu? Menanggapi hal tersebut, Drs Helly P Soetjipto MA, psikolog sosial yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Urusan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UGM, berkenan membagikan pendapatnya. Berdasarkan suatu data, rating program reality show tersebut rata-rata tinggi. Ini mengindikasikan banyak orang yang menyukai program tersebut. Menurut Bapak, apa yang menyebabkan masyarakat menyukai acara semacam itu? Pertama, pastikan dulu apa benar rating yang tinggi itu sudah merepresentasikan minat masyarakat. Kalaupun benar, memang itu sesuai dengan beberapa teori psikologi. Manusia itu memiliki automatic vigilance, yaitu kecenderungan untuk lebih cepat menangkap dan memroses informasi negatif. Ditambah lagi, informasi dari multimedia lebih mudah masuk ke otak karena berbentuk gambar dan suara. Kenapa kemudian banyak yang jadi suka, kita bisa menilik teori perbandingan sosial. Manusia itu jika berada dalam situasi sulit, akan cenderung untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Bisa dengan orang yang situasinya lebih sulit, atau yang lebih beruntung. Televisi menyediakan hal itu, melalui reality show yang ditayangkan orang bisa melihat orang lain yang berada dalam kejadian lebih sulit dari mereka. Jadi fenomena ini mengindikasikan apa? Jika masyarakat menikmati mencemooh orang lain, berarti selera humornya masih berada pada tingkat yang paling rendah. Sayangnya kekurangcerdasan masyarakat ini dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Jadi sebetulnya minat masyarakat yang besar terhadap acara ini berdampak baik atau buruk? Dampak baik atau buruk itu tergantung hal lain. Masalah yang terjadi di sini adalah, minat itu dieksploitasi besar-besaran oleh pihak yang mencari keuntungan. Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar, tentu jadi sasaran bagi pemilik modal. Akhirnya, jumlah reality shownya jadi sangat banyak. Masyarakat jadi semakin tidak memiliki keinginan untuk mencari informasi yang lebih penting, need for cognition-nya rendah. Kalau begitu, bagaimana cara mengatasinya? Sudah ada sistem yang mengarah ke usaha penyelesaian, misalnya dengan adanya komisi penyiaran. Sayangnya, ada berapa orang yang memiliki idealisme seperti itu? Dari Bapak sendiri, apakah ada saran untuk masyarakat ? Sarannya, bisa dengan cara memperkuat keluarga dan pribadi masing-masing, agar tidak terpengaruh oleh perubahan dan tren negatif yang muncul dari televisi.
|