SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
FOKUS
Gama Abatoir Kembali Dibuka PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yuyun, Iim   
Gama Abatoir, unit usaha Rumah Potong Ayam (RPA) milik Fakultas Peternakan, membuka peluang bisnis dengan konsep baru a la mahasiswa

Pertengahan September lalu, terpampang poster di pertigaan Lembah Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian yang berisi informasi harga ayam yang lebih murah di Gama Abatoir. Unit usaha itu kini berbenah, bahkan mahasiswa dilibatkan sepenuhnya dalam usahanya.

Konseptor sekaligus Eksekutor
Awalnya, Gama Abatoir merupakan fasilitas laboratorium milik Fakultas Peternakan. Fasilitas ini kemudian berkembang menjadi unit usaha yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Usaha ini sempat terhenti di tengah jalan karena berbagai faktor penghambat.
Melihat peluang dari unit usaha ini, Mirza Akbar dan Fandy (Peternakan ’06) berinisiatif menghidupkannya kembali. Ide ini mendapat lampu hijau dari Dekanat Fakultas Peternakan, pemilik Gama Abatoir. Beliau membebaskan mahasiswanya dalam mengonsep dan mengelola usaha yang baru berumur satu bulan ini. Pada 16 September 2008, usaha ini mulai membuka pasar untuk kalangan sekitar UGM. Hadir kembali dengan konsep baru, usaha ini mampu membuahkan hasil yang baik.
Menurut Mirza, Direktur Pelaksana Gama Abatoir, mahasiswa bekerja sebagai konseptor sekaligus sebagai pelaksana lapangan. Mulai dari pasokan, pemasaran, penjualan bahkan investasi dengan berbagi keuntungan dengan pihak fakultas. Meski begitu, pihak fakultas tak begitu saja lepas tangan terhadap pengelolaannya. Mereka menjadi penanggung jawab bila terjadi hal-hal di luar rencana.
Keterlibatan mahasiswa dalam pengelolaan Gama Abatoir bukan tanpa alasan. Hal ini bertujuan agar mahasiswa belajar bertanggung jawab terhadap keputusannya. “Tujuannya untuk melatih kemampuan problem solving, sekaligus mempraktekkan ilmu yang didapatnya untuk berbisnis,” imbuh Dr Ir Ali Agus DAA DEA, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama.
Nilai positif yang diperoleh UGM dari usaha ini adalah kepercayaan masyarakat atas kualitas produk daging ayam. Di saat masyarakat resah akan produk daging ayam yang beredar di pasaran, UGM menawarkan angin segar untuk mengatasi keresahan tersebut. Apalagi dengan harga yang murah dan fasilitas pengiriman khusus Sabtu-Minggu. Kepuasan dan kepercayaan konsumen pada Gama Abatoir menjadi faktor yang diperhitungkan.
Upaya yang telah dibangun ini diharapkan akan membawa hasil menggembirkan. Keberhasilan usaha ini akan memberikan peluang bagi Gama Abatoir untuk memperlebar sayap usahanya. “Sebagai jangka panjang, jika sudah cukup stabil berjalan, investasi akan dibuka untuk umum,” tambahnya.

Inovasi Baru
Harga yang ditawarkan oleh Gama Abatoir memang lebih murah karena konsep penjualannya tak sama dengan konsep RPA lainnya. Mereka menjual ayam per ekor bukan per potong. Ternyata pemasaran seperti ini lebih mudah dilakukan. “Kami tidak harus menjual jeroan-jeroannya lagi,” ungkap Mirza. Gama Abatoir saat ini hanya melayani pemesanan ayam, tapi tak menutup kemungkinan nantinya akan melayani pemotongan hewan lainnya.
Usianya yang masih belia, memberikan hambatan berarti untuk pemasaran. “Saat ini, kami hanya menyebar poster dan leaflet sederhana untuk beriklan,” tutur Mirza. Target pasar yang dibidik oleh Gama Abatoir pun saat ini hanya sebatas pada skala rumah tangga dan rumah makan.
Seperti apapun dinamika di dalamnya, Gama Abatoir merupakan salah satu bentuk pembelajaran bagi mahasiswa.“UGM adalah institusi pendidikan, jadi tidak serta merta komersil, namun melalui unit usaha, kita mendidik mahasiswa berwirausaha, melatih disiplin, bermain dengan resiko, serta bertanggung jawab,” pungkas Ali.

 
Lika Liku Pembayaran BOP PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Linda   

Ketidakjelasan jadwal dan prosedur BOP ini, menimbulkan pertanyaan mengenai birokrasi dan pengelolaan biaya operasional pendidikan di kampus biru ini

 

“Sebenarnya kami tak mempersulit mahasiswa,” demikian ungkap Susanto, Kepala Sub Direktorat Penerimaan dan registrasi UGM. Nyatanya, sebagian mahasiswa menilai proses pembayaran BOP semester ini cukup kisruh dengan tak pastinya jadwal pembayaran BOP.

 

Kurangnya sosialisasi

Senin (6/10) lalu, pihak rektorat mengeluarkan surat keputusan mengenai perpanjangan waktu pembayaran BOP hingga Rabu (15/10). Perpanjangan diadakan karena jadwal sebelumnya bertepatan dengan libur hari raya. Surat pemberitahuan ini juga dikeluarkan karena masih banyak mahasiswa yang belum melakukan pembayaran BOP, padahal waktu pelaksanaan mid semester sudah semakin dekat.

Sebenarnya, pengeluaran jadwal pembayaran BOP dari pusat ini hanya sebagai kontrol, bukan peraturan yang wajib ditaati. Otoritas tetap dipegang oleh bagian administrasi masing-masing fakultas. Otoritas ada di tangan fakultas karena dana BOP ini 100% digunakan oleh fakultas, bukan untuk keperluan universitas. Tapi walau begitu, tiap fakultas tetap harus melapor pada pusat,” tutur Susanto.

Ada beberapa prosedur bagi mahasiswa yang mendapat keringanan biaya karena berbagai alasan, misal karena mendapat beasiswa atau ingin melakukan penundaan pembayaran. “Mereka yang ingin mendapat keringanan harus melapor pada fakultas dengan menyertakan surat dari dekan fakultas masing-masing,” ujar Susanto.

Penundaan pembayaran ini harus disertai alasan logis dan tanggal kesanggupan pembayaran. Selanjutnya, pihak fakultas akan melapor kepada pihak rektorat guna keperluan perubahan data. Hal ini diperlukan karena Bank Mandiri yang dipercaya UGM sebagai pusat aktivitas administrasi tak akan melayani pembayaran jika terdapat kesalahan data.

 

Fasilitas lain

Menurut Susanto, sebenarnya tak masalah jika pembayaran BOP dijadwalkan pada 1-5 Oktober. Meski libur dan bank-bank tutup, masih ada fasilitas lain yang bisa digunakan. “’Kan mahasiswa tak perlu datang ke bank. Walaupun bank tutup, masih ada fasilitas-fasilitas yang telah disediakan namun kurang dimanfaatkan oleh mahasiswa, misalnya ATM,” tandas Susanto.

            Hal ini dibenarkan Wati, salah satu customer service Bank Mandiri. ”Setelah lebaran, antrian di bank selalu penuh. Kita (Bank Mandiri dan mahasiswa, -Red) jadi sama-sama repot. Padahal kan lebih mudah lewat ATM. Bukannya jaman sekarang semua mahasiswa sudah punya ATM?” tambah Wati.

Perkembangan pesat dunia internet juga telah menawarkan kebutuhan alat bayar lain yang mudah dan aman, seperti internet banking. ”Fasilitas ATM memang sudah digunakan walau jumlahnya tak sebanyak pembayaran manual di bank. Namun untuk fasilitas e-banking, sepertinya masih jarang mahasiswa yang menggunakan,” ujar Wati.

Terlepas dari carut marutnya pembayaran BOP semester ini, UGM tak pernah ingin menyulitkan mahasiswa. Hendaknya niat baik UGM ini disertai juga dengan sosialisasi yang baik tentang tanggal pembayaran dan fasilitas pembayaran lain.