|
Selain indah, sakura termasuk spesies langka dan memiliki karakteristik unik. Itulah yang mendorong pengelola Pengelola Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM membudidayakan bunga khas Jepang ini.
Berawal dari inisiatif Fakultas Kehutanan UGM, sejak Desember 2009, KP4 mengembangkan budidaya sakura. Bertempat di KP4, Jalan Solo km 12, Kalitirto, Sleman, sakura ditanam di kebun seluas 2000 m2 dengan jarak tanam 5x5 m. Jenis sakura yang ditanam di KP4 adalah Prunus Cerasoides warna perak dan merah muda, salah satu jenis sakura asal Himalaya. Sampai saat ini, terdapat 34 batang pohon sakura dan selanjutnya akan dikembangkan menjadi 100 batang pohon. Menurut Kepala KP4, Dr Ir Cahyono Agus Dwi K, M Agr Sc, sakura dibudidayakan oleh pengelola KP4 untuk keperluan penelitian dan pemanfaatan keindahannya. “Sakura memiliki karakteristik unik dan tidak banyak di Indonesia, sehingga kita coba untuk ditanam di sini. Namun perlu stimulasi dan penelitian lebih lanjut agar bisa berbunga dengan baik,” ungkap Cahyono. Dalam melakukan aktivitas ini, pengelola KP4 bekerja sama dengan Kebun Raya Cibodas dan Asosiasi Sakura Jepang. Objek penelitian yang dilakukan adalah pembungaan dan pertumbuhan sakura jika ditanam di daerah iklim tropis.
Kendala Di KP4, cuaca menjadi kendala utama penanaman bunga sakura. Umumnya, sakura tumbuh di tempat bersuhu 20oC, sedangkan pengelola KP4 menanam sakura di kebun bersuhu 60oC. “Di daerah tropis kemungkinan bisa tumbuh, tapi sulit berbunga. Biasanya sakura berbunga di tempat yang dingin, kira-kira pada ketinggian diatas 1000 meter. Kalau di daerah panas perlu stimulasi dan pemberian hormon. Jadi tantangannya bagaimana di daerah panas kita bisa membuat sakura berbunga,” tutur Cahyono. Sebelumnya, uji coba budidaya sakura pernah dilakukan di Kebun Raya Cibodas. Hasilnya, sakura dapat berbunga dua kali setahun pada awal dan akhir musim hujan. Pengelola KP4 memperkirakan sakura yang ditanam di KP4 dapat tumbuh seperti yang ada di Kebun Raya Cibodas. Untuk itu, kebutuhan stimulus dan hormon perkembangan harus mutlak terpenuhi. Seperti halnya tanaman lain, uret dan serangga pemakan batang pohon tak luput mengganggu pertumbuhan sakura di kebun ini. Sebagai upaya untuk mengatasi serangan hama, dilakukan pemberian pestisida secara rutin. “Karena sering ada uret atau serangga, jadi harus sering-sering disemprot,” ucap Jupri Wahyudi, teknisi lapangan KP4. |