SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Bulaksumur Online
Pameran Batik dan Fotografi ,Wujud Apresiasi terhadap Masyarakat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Risa, Sarah   
Rabu, 11 Agustus 2010 15:03

Pameran Batik dan Fotografi ,Wujud Apresiasi terhadap Masyarakat

Tanggal 5 Agustus kemarin, mahasiswa KKN-PPM UGM unit 27 menggelar Pameran Batik dan Fotografi yang bertajuk “Dressed By Nature”.  Bertempat di Hotel The Phoenix Yogyakarta, pagelaran yang digelar selama 13 hari ini menampilkan hasil produksi dari sebuah Paguyuban Batik , yaitu Nur Giri Indah. Paguyuban ini merupakan kelompok batik warna alam yang bertempat di Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul yang sekaligus menjadi lokasi KKN-PPM unit 27.

Selain batik, ditampilkan pula pameran fotografi yang menghadirkan 20 karya mahasiswa KKN-PPM unit 27 untuk mengapresiasi hasil produksi Paguyuban tersebut. Batik Nur Giri Indah yang juga lebih dikenal sebagai Batik Tancep ini memiliki keunikan pada warna. Karena dibuat dari bahan alami seperti daun tom, daun mahoni, biji jalawe, warna yang dihasilkan pun terlihat berbeda dan juga tidak menganggu kesehatan lingkungan dan manusia. “Pada pameran fotografi inilah kami memaparkan proses pembuatan batik dari pencantingan, pemotongan kayu, penjemuran, sampai akhirnya menjadi batik yang dikenakan para model,” tutur Christa Adhi Dharma (Komunikasi ‘07), Koordinator Mahasiswa Unit 27 KKN-PPM UGM.

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 11 Agustus 2010 15:21 )
 
Koleksi Wertheim di PSPK UGM PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Febri, Prima   
Rabu, 11 Agustus 2010 14:49

Koleksi Wertheim di PSPK UGM

 

          Sekitar 3500 judul buku koleksi Prof Dr Wertheim kini dapat ditemui di Perputakaan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM. Sebagian besar koleksi yang ada bertemakan sosial seperti sejarah politik Indonesia, sosiologi, sastra, dan kamus bahasa Belanda-Indonesia. Pemberian buku-buku tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh Wertheim. Awalnya koleksi tersebut diberikan kepada Prof Dr Sartono. Setelah wafatnya  Sartono, atas pertimbangan keluarga Wertheim, buku-buku tersebut disumbangkan ke UGM. Hal ini didasari oleh pemikiran dan perasaan Wertheim tentang Indonesia.

            Wertheim adalah seorang sosiolog berkebangsaan Belanda yang mulai mengenal Indonesia ketika menjadi pegawai yang diperbantukan pada Ketua Landraad (Pengadilan Negeri) di Tanjung Karang, Lampung. Perhatian Wertheim pada ilmu pengetahuan mengakibatkan pengangkatan dirinya sebagai Guru Besar Pertentangan Hukum tahun 1936. Ia menggantikan Prof Dr R.D. Kollewijn, Guru Besar Hukum Perdata Antar Golongan, di Fakulteit der Rechtsgeleerdheid (Fakultas Pengetahuan Hukum), Rechtsbogeschool (Sekolah Tinggi Hukum), di Batavia.

             Dalam pekerjaannya, ia mulai berkenalan dengan pemikiran dan cita-cita tunas-tunas muda terpelajar Indonesia yang umumnya menentang penjajahan Belanda dan menganut paham kebangsaan Indonesia. Wertheim mulai menyadari bahwa tata kehidupan masyarakat jajahan sesungguhnya tidak adil terhadap orang-orang pribumi, peranakan Belanda dan keturunan Cina.Menurut penuturan Anne-Ruth Wertheim, putri Prof Dr Wertheim, ketertarikan ayahnya terhadap perjuangan bangsa Indonesia muncul setelah keluarganya sempat terpisah di camp Jepang. Saat itulah Anne dan ayahnya melihat penderitaan yang dirasakan penduduk pribumi. Sejak saat itu, muncul pemikiran bahwa Indonesia harus segera merebut kemerdekaan.

             Kepeduliannya terhadap perjuangan Indonesia ini pula yang kemudaian menjadi alasan untuk memberikan bukunya kepada Sartono yang juga merupakan muridnya. Sartono dianggap salah satu ilmuwan yang penting, tak hanya di Indonesia namun juga dunia karena pemikiran dan kebijaksanaannya. Sartono sendiri juga merupakan salah satu pendiri PSPK UGM. Pemindahan koleksi buku dari kediaman Sartono ke Perpustakaan  PSPK dilakukan secara bertahap sejak 2009.

             Kemarin (29/07), Anne-Ruth berkunjung ke Perpustakaan PSPK untuk melihat koleksi buku ayahnya. Ia merasa puas dengan pengelolaan dan sistem katalogisasi yang dilakukan pihak perpustakaan. Koleksi buku Wertheim ditempatkan dalam satu ruangan khusus yang terpisah dari koleksi buku lain. M. Faridi, pengelola PSPK mengatakan, “Buku-buku tersebut dapat dibaca di tempat oleh umum, namun tidak dapat dibawa pulanng.” Anne-Ruth berharap dengan koleksi buku-buku ayahnya, mahasiswa dapat mengerti pemikiran Wertheim dan menggunakannya untuk penelitian.

 

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 11 Agustus 2010 15:21 )
 
DREaM 2010, program menuju WCRU PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Risa, Sarah   
Minggu, 18 Juli 2010 21:13

DREaM 2010, program menuju WCRU

 

 

Sejalan dengan programnya mewujudkan UGM sebagai World Class Research University (WCRU), kali ini Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM mengadakan  acara tanggal 12-19 Juli 2010. Program yang bertajuk DREaM 2010 ini merupakan event bertaraf internasional yang merupakan international students summer program and world youth leaders assembly. DREaM diikuti oleh 69 peserta dari 21 negara di dunia. Yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, Australia, Jepang, Mesir, Pulau Solomon, Italia, Austria, Timor Leste, United Arab Emirates, Korea Selatan, Aljazair, Gambia, Oman, Senegal, Namibia, dan Madagaskar.

“UGM adalah universitas pertama yang mengadakan acara summer student seperti ini. Hal ini turut membuktikan bahwa UGM telah berhasil sebagai kakak yang mengayomi universitas lainnya. Semoga hal ini bisa menjadi contoh, dalam rangka memperkenalkan Indonesia secara umum, serta Yogyakarta dan UGM khususnya,” ujar Michelle Ayu (Hukum’06). Program ini dilaksanakan dengan tujuan membangun semangat multikulturalisme dan kolaborasi antar-agama untuk pemimpin masa depan. Meningkatkan tanggung jawab pemuda atas sosial dan lingkungannya. Kemudian mengenalkan nilai budaya dan tradisional untuk perkembangan pemuda masa depan.

Beragam kegiatan yang dilakasanakan di program ini, antara lain kuliah umum, yang dibagi 3, yaitu Small Medium Enterprises, Post-Disaster Management, dan Community Service. Aktivitas peserta lainnya adalah ekskursi, program pemberdayaan masyarakat, outbond, pertemuan dan diskusi pelajar internasional, dan field trip. Di akhir acara, peserta harus mempersembahkan pertunjukan tradisonal Negara mereka, lengkap dengan baju khasnya.

Menariknya, kuliah umum diisi oleh pembicara nasional. Seperti misalnya mantan wakil presiden Jusuf Kalla dan Krisnina Tandjun, dan beberapa dosen FEB UGM. Kalla menyampaikan kuliahnya mengenai ekonomi kreatif dan juga membuka sesi diskusi. Sementara, Krisnina memberikan materi mengenai batik sebagai usaha pemberdayaan masyarakat.

Selain diskusi, adapula terobosan baru dari program DREaM di kali kedua ini, yaitu World Youth Leader Assembly (WAYLA).  WAYLA  akan menghasilkan Youth Declaration yang merupakan hasil konferensi. Youth Declaration ini akan dibacakan di acara terakhir yaitu field trip dan upacara penutupan yang akan diadakan di pelataran candi Prambanan. Deklarasi ini nantinya akan dpublikasikan ke badan-badan internasional, pemerintah di dunia dan seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Kesan positif diungkapkan oleh Shin Seul, mahasiswa dari Korea Selatan. “Saya dan 9 teman saya dari Korea Selatan tidak mempunyai rencana apa-apa sebelumnya untuk bergabung dalam program ini. Awalnya, saya tidak tahu bahwa program ini sangat besar dan direncanakan begitu matang, saya juga terkejut dengan pesertanya karena mereka datang dari berbagai negara, dan tentu saja saya sangat senang,” kata Shin. Ibrahim Dedeche, mahasiswa asal Aljazair mengamini hal itu. “Program ini adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mengenai budaya, kehidupan sosial, dan agama. DREaM juga merupakan kesempatan yang baik untuk menambah teman dari negara dan kultur yang berbeda,” pungkasnya.

 

 

 


Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 21:25 )
 
Apresiasi dan Reuni untuk ‘Bang Hadi’ PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Vita   
Minggu, 18 Juli 2010 21:16

Apresiasi dan Reuni untuk ‘Bang Hadi’

 

Sabtu (07/10) lalu, suasana Halaman Gedung Pascasarjana Fisipol UGM tidak sama seperti biasanya. Sejumlah tenda berdiri disertai beberapa hiasan yang menarik. Di depannya terdapat sejumlah karangan bunga bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Bang Hadi”. Itulah yang terlihat dari Malam Apresiasi dan Reuni Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Acara yang diselenggarakan sebagai rangkaian hajatan “Tribute to Ashadi Siregar” tersebut seharusnya dimulai pukul 18.00. Namun, acara terlambat karena Ashadi, yang akrab disapa Bang Hadi, belum datang.  Sembari menunggu, tamu undangan yang berdatangan mendaftarkan diri di resepsionis, lalu menuliskan pesan di sebuah dinding untuk Bang Hadi. Mereka juga memandangi foto Bang Hadi yang ada di sebuah bilik bambu.

Tak lama kemudian sosok bersahaja, berkacamata, dan berkemeja hitam muncul. Dialah Ashadi, yang muncul ditemani keluarganya. Bang Hadi adalah seorang mantan staf pengajar dari Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Karena telah mendapatkan surat pensiun, diadakanlah acara perpisahan dengan pria yang telah berjasa mengharumkan nama UGM, khususnya Jurusan Ilmu Komunikasi tersebut.

Begitu datang, alumni-alumni dari Jurusan Ilmu Komunikasi pun langsung menyambutnya. Mereka pun terlibat dalam sebuah pembicaraan. Ketika selesai berdiskusi, ia pun menyantap hidangan yang telah dipersiapkan. Begitu selesai, ia langsung didaulat untuk duduk di barisan terdepan.

Rangkaian acara pun dimulai. Dodi Ambardhi, dosen komunikasi, menaiki panggung untuk memberikan pidatonya. Sesudahnya, ditampilkan slide-slide foto Ashadi, kemudian sambutan dari Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Budhy Komarul Zaman.

Acara yang ditunggu pun tiba, sesi tumpengan. Sesi tumpengan tersebut tidak ubahnya seperti kue pada perayaan ulang tahun pada umumnya. Maka, Ashadi pun memotong puncaknya tepat di hari ulang tahunnya yang ke enam puluh lima. “Selamat ulang tahun, Bang Hadi!” kata MC.

Setelahnya, Ashadi pun naik ke podium dan memberikan pidatonya. Ia mengucapkan rasa terimakasihnya kepada seluruh alumni yang telah menyelenggarakan acara tersebut. Ia pun memberikan wejangan terhadap beberapa staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi dalam pidatonya. “Perubahan ilmu komunikasi semenjak Perang Dunia II tidak begitu berpengaruh pada jurusan. Saya titipkan jurusan komunikasi untuk tetap diperdebatkan,” pesannya.

Pidato Ashadi pun ditutup dengan gelak tawa meriah peserta undangan. Ia mengucapkan rasa harunya atas kejutan berupa acara untuk dirinya. Namun ia tetap berusaha untuk menutupinya sehingga timbullah mimik dan ucapan yang berkelakar darinya.

Sosok Ashadi memang layak untuk dikenang. Berbagai pendapat positif mengenai dirinya bermunculan. Seperti Saur Hutabarat , Pemimpin Redaksi Media Indonesia “Dia melihat segala sesuatu dengan pikiran yang berbeda.”  Ditambahkannya, pria yang juga menulis novel Jentera Lepas itu berpikir atas dasar-dasar empirik. Ia tidak tergoda dengan pragmatisme. “Bang Hadi adalah orang yang jujur dan lugas,” jelasnya. Tak heran bila Bang Hadi disebut sebagai penjaga akal sehat dari Kampus Biru. Bagi Saur, Bang Hadi tidak akan pernah pensiun. Ia hanya pensiun secara administratif, namun ia akan tetap berkarya di bidang jurnalistik.

Tidak hanya itu, pria yang lahir di Pematang Siantar tersebut juga sangat giat di bidang media. Ia sempat menjadi pemimpin redaksi di koran , meski akhirnya dilarang terbit oleh pemerintah Orde Baru setelah terbitan yang ke-13. Walaupun diadili, ia tidak kenal kata menyerah. Tahun 1999, ia dipercaya lagi menjabat sebagai pemimpin redaksi di Surabaya Post. Bahkan kini Bang Hadi masih menjabat sebagai direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y) sejak tahun 1992. LP3Y itulah yang kini menghasilkan sejumlah wartawan-wartawan handal.

Selain sebagai staf pengajar dan wartawan, pria kelahiran 3 Juli 1945 ini juga dikenal sebagai novelis handal. Beberapa novel yang telah ditulis dan meledak di pasaran antara lain Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir. Cintaku di Kampus Biru-lah yang semakin mengharumkan nama UGM, hingga UGM dikenal dengan sebutan ‘Kampus Biru’.

Uniknya, tidak ada satupun dari keluarganya yang memiliki profesi yang sama dengannya. Istrinya, Helga, berkecimpung dalam bidang desain grafis. Sementara itu, Banua, putra sulungnya, memiliki minat dalam hal fotografi. Messa, putra bungsunya lebih menyukai dunia psikologi. Ashadi pun memilih untuk tidak mencampurkan urusan rumah dan pekerjaan. Namun, Messa berpendapat bahwa ayahnya adalah teman diskusi yang baik. “Diskusi macam-macam. Mulai politik, sosial, dan lain-lain,” ujarnya.

            Mengenang Ashadi, tidak akan pernah cukup dalam sebuah acara. Namun, setidaknya acara yang digagas Jurusan Komunikasi UGM ini merupakan apresiasi atas perjuangan Ashadi selama ini. Di akhir acara, pria yang menerima Satyalencana Karya Satya XXX pada tahun 2007 ini memberikan pesan singkat tetapi sarat makna bagi Ilmu Komunikasi UGM,” Bagi teman-teman muda untuk tetap saling berkomunikasi.”

 

Vita

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 21:20 )
 
Sinisme Seorang Ashadi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Vita   
Minggu, 18 Juli 2010 21:00

Sinisme Seorang Ashadi

 

Sabtu (07/10) lalu, Ashadi Siregar mendapat hadiah kejutan pada ulang tahunnya yang keenam puluh lima. Hadiah tersebut diwujudkan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru”. Sejumlah alumni pun menyampaikan testimoni tentang sinisme Ashadi.

Bang Hadi itu tampak seperti orang yang sarkas, angker, sinis, tetapi memiliki kemampuan sabar mendengarkan yang besar,” ujar Saur Hutabarat, Pemimpin Redaksi Media Indonesia dalam acara yang diadakan di Ruang Seminar Pascasarjana Fisipol tersebut.

Rizal Malarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute pun menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Saur. ''Dia memberi motivasi tanpa menggurui. Kalau berdebat dan tidak setuju pada satu gagasan, paling-paling dia hanya tertawa kecil yang agak sinis tanpa terkesan memusuhi dan merendahkan," tuturnya.

Dalam buku yang diluncurkan tersebut, juga terangkum pula bagaimana sinisme novelis Cintaku di Kampus Biru ini. Ia seringkali berkomentar dengan cukup sinis dan terkadang nylekit. Dodi Ambardhi, staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi yang juga pernah menjadi muridnya, bahkan menjulukinya sebagai ”Raja Sinis”, ”Tukang Gembos”, dan ”Si Raja Tega”.

Meski sinis, Bang Hadi, panggilan akrab Ashadi Siregar, merupakan sosok yang menyenangkan. Ia meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati murd-muridnya sehingga diadakanlah hajatan tersebut. ”Tidak ada duka bersama Bang Hadi,” ujar Rizal ketika ditanya mengenai suka dan duka bersama Bang Hadi. Baginya, semua pengalaman bersama pria keturunan Batak tersebut adalah suka.

Ashadi juga merupakan sosok yang sangat sederhana. Ketenarannya sebagai penulis novel bahkan tidak pernah merubah sifatnya. ”Di tengah wabah kegandrungan orang untuk menjadi selebritas, Ashadi memilih untuk meninggalkannya,” ujar Dodi.

Diskusi yang dimoderatori oleh Ana Nadhya Abrar tersebut berlangsung sangat menarik. Terlebih diskusi yang diselenggarakan sebagai acara perpisahan dan pensiun Ashadi berisi testimoni-testimoni alumni yang membangkitkan sejumlah kenangan lucu dan membuat semua yang ada di Ruang Seminar Pascasarjana Fisipol UGM terbahak-bahak.

Para alumni dan kolega Bang Hadi berharap, dengan adanya masa pensiun ini Bang Hadi tidak pensiun begitu saja melainkan tetap berkarya. ”Tetaplah berkarya terus di akademik dan sastra!” harap Prof Dr Pratikno M Soc Sc, Guru Besar Fisipol UGM.

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 21:21 )
 
Artikel Lain...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 12